Jumat, 07 Desember 2007

Media Teroris atau Teroris media



Proses Konstruksi Media Internasional Terhadap Citra “Teroris”



Pagi hari 11 September 2002, masyarakat kota New York mengawali kehidupan seperti biasa. Ada yang berangkat untuk bekerja, bersekolah dan berolah raga. Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak masyarakat New York jika hari ini akan terjadi peristiwa yang luar biasa dan selalu dikenang oleh rakyat Amerika sebagai salah satu peristiwa terburuk yang menimpa mereka di abad 21.


Di tengah cuaca yang cerah kota New York, kota terbesar di Amerika Serikat, tiba-tiba masyarakat dikagetkan dengan pemandangan luar biasa. Entah dari mana asalnya pesawat boeing 747 berbadan putih milik maskapai penerbangan America Airlines menabrak gedung World Trade Center (WTC) atau yang biasa disebut ”The Twin Tower” atau menara kembar. Tidak lama setelah berlangsung kejadian pertama, tiba-tiba pesawat kedua muncul dan tepat menabrak gedung WTC yang satunya. Akhirnya Tidak lama berselang kedua gedung yang mendapatkan predikat sebagai gedung tertinggi di dunia ini pun runtuh jatuh ke bumi menyisakan kekagetan, kebingungan dan kemarahan rakyat Amerika.


Keheranan rakyat Amerika ternyata tidak berhenti sampai disini, saat media massa nasional Amerika melaporkan kepada publik tentang dua pesawat lain yang menabrakkan diri dengan cara yang sama ke Pentagon dan satunya jatuh di padang rumput Pensylvania. Dikabarkan pesawat yang jatuh di padang rumput ini, crew dan penumpangnya memberikan perlawanan terhadap pembajak. Diperkirakan pessawat yang jatuh ini akan menabrakkan diri ke gedung putih.


Peristiwa tanggal 11 bulan September ini begitu menggetarkan dunia. Masyarakat bumi terpana dengan apa yang terjadi. Hampir seluruh media massa internasional seperti CNN, ABC, Time, dan BBC meliput peristiwa ini dengan sangat antusias. Bahkan tidak hanya melaporkan persitiwa yang ada dalam bentuk berita tetapi juga memberikan analisis-analisis pakar di bidangnya, memberikan laporan investigasi, menayangkan opini publik Amerika dan dunia tentang peritiswa ini. Tragedi ini pun berkembang menjadi bentuk komodifikasi media dan menjadi modal pencitraan publikasi (sosial currency) sebagaimana pernah disampaikan Jean Baudrilllard.(www. Hidayatullah.com)


Di tengah kebingungan dan kemarahan rakyat Amerika, tiba-tiba televisi dan media cetak Amerika mulai menayangkan dan mencetak gambar-gambar pelaku yang dirilis pemerintah. Bukan kebetulan semua pelaku diperlihatkan mempunyai bentuk muka khas orang arab, beragama Islam dan mempunyai nama yang berasal dari bahasa Arab. Seketika itu juga tanpa penyelidikan lebih lanjut sebagian besar public Amerika meyakini jika Al Qaedah di bawah pimpinan Osama Bin Laden adalah orang yang paling bertanggung jawab. Akhirnya secara membabibuta publik melampiaskan kemarahan pada komunitas Arab dan Muslim di Amerika

Beberapa waktu kemudian di tahun 2003, di belahan bumi yang lain terjadi ledakan Bom berkekuatan dashyat di pulau Bali, atau yang biasa disebut bom Bali dimana 202 orang terbunuh. Sebagian besar korban adalah warga negara asing dengan jumlah korban terbanyak warga Australia.


Beberapa tahun kemudian peristiwa peledakan Bom Bali terjadi lagi, kali ini disebut sebagai bom Bali II. Sebanyak 25 orang tewas dan 102 lainya luka-luka akibat terjadinya ledakan di dua tempat. Ada yang menarik dari pemberitaann media yang mampu menggambarkan secara gamblang bagaimana pencitraan kembali dibentuk.

Harian Sidney Morning Herald Australia menulis “Australia believes Jamaah Islamiah is likely responsible for the latest string of attacks – the same group blamed for the 2002 bombings”. “There is no doubt the al-Qaeda linked terror group Jamaah Islamiah (JI) is responsible for the latest Bali Bombings,” demikian SMH mengutip pernyataan Rohan Gunaratma. Rohan Gunaratma adalah kepala penelitian terorisme pada Singapore’s Institute of Defence and Strategic Studies. (www.Hidayatullah.com)

Sedangkan stasiun Televisi ABC menayangkan pernyataan Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer, kepada stasiun televisi ABC mengarahkan pelaku bom Bali II ini kepada Azahari Husin dan Noordin Top. “It wouldn’t be a surprise if this attack was tied up with those two people, but you can’t be certain this stage. It’s just got the characteristics of an al-Qaeda, well al-Qaeda but Jamaah Islamiah style attack and an attack that might have involved those two people. It’s mere speculation at this stage,” demikian pernyataan Downer. (ibid)


Secara terus-menerus dan berkelanjutan nama-nama dan wajah arab mulai sering didengar di Media cetak, Televisi dan radio-radio Internasional. Citra arab dan gerakan muslim bahkan agama Islam selalu dikaitkan secara membabibuta dengan Peristiwa Bom Marriot, Bom di kedutaan besar Australia, Bom jaringan kereta api di Spanyol, Bom kereta di India, dan berbagai kejadian kekerasan di Irak. Pemberitaan-pemberitaan tersebut semakin menguatkan citra orang-orang berpakaian gamis badui, berjenggot, berwajah Arab sebagai orang-orang Islam ekstrem, radikal, dan haus darah.


Padahal sesungguhnya tuduhan kepada anggota Al-Qaedah, Jamaah Islamiah, Hammas, Azahari Husin dan Noordin Top-pun sampai dengan detik ini masih saja bersifat tersangka (suspect) yang belum mampu dibuktikan kebenarannya secara jelas. Mungkin saja mereka dikambinghitamkan sebagai pelaku dalam serangkaian aksi teror di bumi ini. Fakta sebenarnya kita semua sedang menunggu dan bertanya-tanya dengan sikap ingin tahu.


Permasalahan di atas menunjukkan ada korelasi yang cukup signifikant antara media massa dan dampak yang diakibatkan dengan para khalayaknya. Menurut Severin, (2005) Media massa setidaknya menjadi sumber komunikasi. Dimana dampak media massa lebih dilihat sebagai dampak kognitif kepada masyarakat. Khalayak sendiri merupakan komunikan yang mengkonsumsi hasil rekonstruksi realitas yang diproduksi oleh media massa. Media massa pemberitaan diyakini oleh banyak orang (termasuk banyak pembuat keputusan) sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya.


Berita, dalam konteks komunikasi massa yang berkembang sampai sekarang, selalu muncul dalam benak dan pikiran manusia. Berita yang dikonstruksi dalam benak manusia bukan merupakan peristiwa riil manusia. Berita sangat jauh dari realitas nyata. Berita merupakan usaha rekonstruksi kerangka peristiwa yang terjadi. Berita dalam konteks komunikasi massa, lebih merupakan inti yang disesuaikan dengan kerangka acuan yang dipertimbangkan agar peristiwa itu memiliki makna bagi para pembacanya.


Berita dalam kapasitasnya sebagai pembentuk dan dinamisator pengolahan interpretasi atas peristiwa manusia, menjadi hal yang sangat penting dalam proses pembentukan konstruk sosial. Berita, pada titik tertentu, sangat mempengaruhi manusia merumuskan pandangannya tentang dunia (Weltanschaung). Pandangan terhadap dunia adalah bingkai yang dibuat oleh manusia untuk menggambarkan tentang apa dan bagaimana dunia dipahami. Berbagai pengalaman hidup manusia dimaknai dalam bingkai tersebut. Tanpa adanya bingkai yang jelas, kejadian, peristiwa dan pengalaman manusia akan terlihat “kacau” dan chaos. Bingkai pengalaman dapat dilihat sebagai “skenario awal” yang memposisikan setiap pengalaman dan peristiwa dalam plot cerita yang kurang lebih runtut, rasional dan sistematis. (www.ekawenats.blogspot.com)

Sebagai sebuah proses sosial pemberitaan merupakan salah satu alat konstruksi realitas. Menurut Irwan Abdullah proses konstruksi itu bertumpu pada istilah dan nilai yang dibawa oleh sebuah bahasa yang digunakan untuk menjadi kekuatan dalam pencitraan.(Humaniora, 2003:03)


Dalam penyusunan beritanya mengenai terorisme sebagian besar media massa dan kantor pemberitaan Amerika pada khususnya dan barat pada umumnya, dalam hal ini negara-negara Eropa barat, Amerika belahan Utara dan Australia. Dalam pemberitaanya media massa internasional seringkali menggunakan istilah-istilah baru dalam bahasa seperti lahirnya kosakata baru Islam Fundamentalis, Islam Radikal, Ulama radikal, untuk memperkuat pesan. Hal itu dilakukan demi terciptanya modal pencitraan yang kuat dalam publikasi yang ujung-ujungnya adalah untuk komoditas media.


Semenjak peristiwa 11 september di Amerika, berita-berita tentang terorisme menjadi salah satu komoditas utama di media massa seluruh dunia. Ditambah dengan peristiwa-peristiwa teror yang terjadi di seluruh dunia. Pernyataan perang melawan teroris dan segala aktivitasnya yang dideklarasikan oleh presiden Amerika Serikat dan hampir seluruh pemimpin dunia menjadi bahan berita yang mampu mengisi headline berita media Internasional seperti CNN, BBC, ABC dan Time dan mereka benar-benar melakukannya.


Perang-perang lokal yang terjadi di belahan bumi menjadi bahan atau materi berita yang semakin menarik untuk dikaji lebih mendalam. Berita-berita tentang perampok bersenjata yang tidak jarang memakan korban telah menjadi bagian integral bagi media massa untuk menaikkan oplah media, baik media cetak maupun media elektronik. Banyak korban kekerasan dan peristiwa yang bersifat destruktif menjadi ladang panen yang siap dipanen bermanfaat untuk memperbanyak kuantitas profit ekonomi para pemilik modal media massa kontemporer. Bukan saja berita yang bersifat langsung dan keras yang laku di pasaran tapi juga berita-berita kelaparan, kemiskinan, ketidakberdayaan masyarakat dalam “teror-teror” simbolik yang dikembangkan di media massa. (www.ekawenats.blogspot.com)


Menurut salah satu pemikir kritis Amerika Serikat Noam Chomsky, dari beberapa sumber internet pemerintah Amerika Serikat memberikan setiap tahunnya 1 milyar dolar untuk propaganda dan kegiatan kehumasan. Sebagai contoh pada tahun 1996, Kongres Amerika Serikat memberikan dana sebesar 10 juta dollar kepada jaringan media massa dunia dan beberapa milyar dollar lagi untuk jaringan media besar lainnya. Untuk kompensasinya, pemerintah Amerika Serikat meminta adanya dukungan media terhadap kebijakan pemerintah.
Pada tahun 2003, Komisi Hukum Federal Amerika Serikat mengesahkan Undang-Undang yang memungkinkan media-media raksasa melakukan monopoli. Pemerintah Amerika Serikat justru mendorong agar perusahaan-perusahaan media saling melakukan merger sehingga bisa menjadi perusahaan media raksasa. Dengan harapan pemerintah Amerika Serikat, semakin sedikit perusahaan media, langkah-langkah yang ditempuh agar dapat mengontrol jaringan media massa dunia dan menjadikannya sebagai dominator informasi dunia akan lebih mudah.

Dengan kemampuan teknologi yang mereka punyai, mereka mampu menjadikan media-media yang ada sebagai media politik arus utama di dunia. Ada banyak contoh yang bisa kita simak. Misalnya ketika kemenangan George W. Bush yang kontroversial pada pemilu tahun 2000. Stasiun televisi Fox News, yang didirikan atas bantuan tokoh-tokoh partai Republik, partai dari mana George W. Bush berasal, berperan penting dalam kemenangan itu. Pada tahun 2004, direktur stasiun televisi ini secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada Bush. Sementara itu, terungkap juga bahwa ada perjanjian resmi antara CNN dan pemerintah Amerika Serikat, mengingat siaran CNN bisa ditangkap di seluruh penjuru dunia.(www.hidyatullah.com)


Dalam proses penyusunan konstruksi realitas, menurut Peter Berger & Luckamnn (Bungin,2001:12) telah terjadi dialektika antara individu yang menciptakan masyarakat dan masyarakat yang menciptakan individu. Proses dialektika ini terjadi melalui Eksternalisasi, Obyektifikasi, dan Internalisasi. Dialektika tersebut akan terus saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Dalam hal ini antara media massa, realitas sosial dan realitas sosial bentukan media. Sehingga melalui berbagai produk media seperti informasi dan acara munculah realitas sosial baru sebagai hasil dialektika mengikuti realitas yang disampaikan oleh media.

Redaksi media massa turut menyumbangkan produk sosial hasil rekonstruksi realitas dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Citra teroris buatan media sebagai produk sosial terus berinteraksi dengan masyarakat melalui pemberitaan, siaran-siaran televisi, siaran radio dan media cetak. Dalam tahapan ini eksternalisasi terjadi, hingga masyarakat menerima. Seiring interaksi yang terjadi citra teroris ini menjadi penting karena individu melakukan penyesuaian diri. Seakan produk yang diproduksi media tersebut menjadi bagian dari dunia sosiokultural yang diproduksi manusia.


Dalam proses obyektivikasi, produk sosial ini berlangsung bertahap dan dalam jangka waktu yang lama. Manusia mulai melakukan signifikasi (pemberian nilai) terhadap informasi pemberitaan yang dibuat oleh redaksi media. Redaksi media dalam setiap pemberitaanya melakukan proses pencitraan menandai sebuah produk dengan citra tertentu seperti citra teroris dengan orang arab, orang arab dan fundamentalisme beragama, Islam dan kekerasan. Proses transaksi nilai ini terjadi dalam dunia intersubyektif masyarakat.


Orang-orang bersorban dengan wajah marah menenteng senjata Ak-47 sambil memaki-maki Amerika hampir setiap hari terlihat di madia-media massa internasional. Simbol-simbol agama dalam bendera-bendera yang dibawa pria arab sekaligus membawa bom sudah menjadi santapan sehari-hari audiens. Dalam tayangan pemberitaan tersebut redaksi pemberitaan media memberikan kesubyektivitasnya dalam melihat realitas sosial yang ada.


Proses pemberitaan yang mengarah ke arah pembodohan dan ketebelakangan umum ini tidak lain dan tidak bukan adalah hasil reproduksi realitas yang ada dalam dunia sosiokultural masyarakat. Pada tahap ini, terjadi kembali pemahaman dan penafsiran langsung terhadap pemberitaan media massa, sebagai pengungkapan makna oleh individu. Proses reproduksi sosial dalam pemberitaan, seperti yang diuraikan adalah gambaran bagaimana internalisasi nilai terjadi dalam pemberitaan oleh media.


Seperti ditegaskan Berger dan Luckmann (1966), kenyataan sosial merupakan suatu konstruksi sosial buatan masyarakat sendiri, dalam perjalanan sejarahnya dari masa silam, masa kini, dan masa depan. Realitas diproduksi, direkayasa secara intensif sehingga menghasilkan pandangan seolah-olah merupakan hal yang biasa saja.


Berkaitan dengan terorisme —sering kali tanpa kita sadari— ada sebuah konstruksi sosial yang dibangun oleh pihak-pihak yang berkepentingan yang bertujuan mendistorsi realitas. Hasil distorsi realitas ini kemudian disosialisasikan kepada masyarakat sehingga menjadi sebuah common sense, dapat diterima dengan akal sehat. Konstruksi sosial tersebut berupa konotasi bahwa istilah teroris itu —diarahkan sedemikian rupa sehingga— hanya menunjuk pada “sekelompok orang” yang mengintimidasi pemerintah dengan cara kekerasan. (www.pikiran-rakyat.com)


Gigih Pribadi
Tugas Matkul Soskomku/2005



Cinta



Seperti cinta ketika semua rasa diterjemah tanpa paksa
Seperti cinta saat gugusan waktu hadir atas-Nya penuh warna
Seperti cinta untuk ayat yang hambur berkali-kali hingga gemetar isi hati
Seperti cinta saat materi tak sangat penting didefinisi
Seperti cinta yang membuatku begitu dipahami


Harus berpuluh-puluh bayang bertutur tanpa ragu
Harus berkali-kali tertangkap isyaratkn
Harus merenung, ku tergenggam, tanpa suara
Jarak memasung sadar diri


Gigih Pribadi