Tampilkan postingan dengan label Enlightment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Enlightment. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2007

Media Teroris atau Teroris media



Proses Konstruksi Media Internasional Terhadap Citra “Teroris”



Pagi hari 11 September 2002, masyarakat kota New York mengawali kehidupan seperti biasa. Ada yang berangkat untuk bekerja, bersekolah dan berolah raga. Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak masyarakat New York jika hari ini akan terjadi peristiwa yang luar biasa dan selalu dikenang oleh rakyat Amerika sebagai salah satu peristiwa terburuk yang menimpa mereka di abad 21.


Di tengah cuaca yang cerah kota New York, kota terbesar di Amerika Serikat, tiba-tiba masyarakat dikagetkan dengan pemandangan luar biasa. Entah dari mana asalnya pesawat boeing 747 berbadan putih milik maskapai penerbangan America Airlines menabrak gedung World Trade Center (WTC) atau yang biasa disebut ”The Twin Tower” atau menara kembar. Tidak lama setelah berlangsung kejadian pertama, tiba-tiba pesawat kedua muncul dan tepat menabrak gedung WTC yang satunya. Akhirnya Tidak lama berselang kedua gedung yang mendapatkan predikat sebagai gedung tertinggi di dunia ini pun runtuh jatuh ke bumi menyisakan kekagetan, kebingungan dan kemarahan rakyat Amerika.


Keheranan rakyat Amerika ternyata tidak berhenti sampai disini, saat media massa nasional Amerika melaporkan kepada publik tentang dua pesawat lain yang menabrakkan diri dengan cara yang sama ke Pentagon dan satunya jatuh di padang rumput Pensylvania. Dikabarkan pesawat yang jatuh di padang rumput ini, crew dan penumpangnya memberikan perlawanan terhadap pembajak. Diperkirakan pessawat yang jatuh ini akan menabrakkan diri ke gedung putih.


Peristiwa tanggal 11 bulan September ini begitu menggetarkan dunia. Masyarakat bumi terpana dengan apa yang terjadi. Hampir seluruh media massa internasional seperti CNN, ABC, Time, dan BBC meliput peristiwa ini dengan sangat antusias. Bahkan tidak hanya melaporkan persitiwa yang ada dalam bentuk berita tetapi juga memberikan analisis-analisis pakar di bidangnya, memberikan laporan investigasi, menayangkan opini publik Amerika dan dunia tentang peritiswa ini. Tragedi ini pun berkembang menjadi bentuk komodifikasi media dan menjadi modal pencitraan publikasi (sosial currency) sebagaimana pernah disampaikan Jean Baudrilllard.(www. Hidayatullah.com)


Di tengah kebingungan dan kemarahan rakyat Amerika, tiba-tiba televisi dan media cetak Amerika mulai menayangkan dan mencetak gambar-gambar pelaku yang dirilis pemerintah. Bukan kebetulan semua pelaku diperlihatkan mempunyai bentuk muka khas orang arab, beragama Islam dan mempunyai nama yang berasal dari bahasa Arab. Seketika itu juga tanpa penyelidikan lebih lanjut sebagian besar public Amerika meyakini jika Al Qaedah di bawah pimpinan Osama Bin Laden adalah orang yang paling bertanggung jawab. Akhirnya secara membabibuta publik melampiaskan kemarahan pada komunitas Arab dan Muslim di Amerika

Beberapa waktu kemudian di tahun 2003, di belahan bumi yang lain terjadi ledakan Bom berkekuatan dashyat di pulau Bali, atau yang biasa disebut bom Bali dimana 202 orang terbunuh. Sebagian besar korban adalah warga negara asing dengan jumlah korban terbanyak warga Australia.


Beberapa tahun kemudian peristiwa peledakan Bom Bali terjadi lagi, kali ini disebut sebagai bom Bali II. Sebanyak 25 orang tewas dan 102 lainya luka-luka akibat terjadinya ledakan di dua tempat. Ada yang menarik dari pemberitaann media yang mampu menggambarkan secara gamblang bagaimana pencitraan kembali dibentuk.

Harian Sidney Morning Herald Australia menulis “Australia believes Jamaah Islamiah is likely responsible for the latest string of attacks – the same group blamed for the 2002 bombings”. “There is no doubt the al-Qaeda linked terror group Jamaah Islamiah (JI) is responsible for the latest Bali Bombings,” demikian SMH mengutip pernyataan Rohan Gunaratma. Rohan Gunaratma adalah kepala penelitian terorisme pada Singapore’s Institute of Defence and Strategic Studies. (www.Hidayatullah.com)

Sedangkan stasiun Televisi ABC menayangkan pernyataan Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer, kepada stasiun televisi ABC mengarahkan pelaku bom Bali II ini kepada Azahari Husin dan Noordin Top. “It wouldn’t be a surprise if this attack was tied up with those two people, but you can’t be certain this stage. It’s just got the characteristics of an al-Qaeda, well al-Qaeda but Jamaah Islamiah style attack and an attack that might have involved those two people. It’s mere speculation at this stage,” demikian pernyataan Downer. (ibid)


Secara terus-menerus dan berkelanjutan nama-nama dan wajah arab mulai sering didengar di Media cetak, Televisi dan radio-radio Internasional. Citra arab dan gerakan muslim bahkan agama Islam selalu dikaitkan secara membabibuta dengan Peristiwa Bom Marriot, Bom di kedutaan besar Australia, Bom jaringan kereta api di Spanyol, Bom kereta di India, dan berbagai kejadian kekerasan di Irak. Pemberitaan-pemberitaan tersebut semakin menguatkan citra orang-orang berpakaian gamis badui, berjenggot, berwajah Arab sebagai orang-orang Islam ekstrem, radikal, dan haus darah.


Padahal sesungguhnya tuduhan kepada anggota Al-Qaedah, Jamaah Islamiah, Hammas, Azahari Husin dan Noordin Top-pun sampai dengan detik ini masih saja bersifat tersangka (suspect) yang belum mampu dibuktikan kebenarannya secara jelas. Mungkin saja mereka dikambinghitamkan sebagai pelaku dalam serangkaian aksi teror di bumi ini. Fakta sebenarnya kita semua sedang menunggu dan bertanya-tanya dengan sikap ingin tahu.


Permasalahan di atas menunjukkan ada korelasi yang cukup signifikant antara media massa dan dampak yang diakibatkan dengan para khalayaknya. Menurut Severin, (2005) Media massa setidaknya menjadi sumber komunikasi. Dimana dampak media massa lebih dilihat sebagai dampak kognitif kepada masyarakat. Khalayak sendiri merupakan komunikan yang mengkonsumsi hasil rekonstruksi realitas yang diproduksi oleh media massa. Media massa pemberitaan diyakini oleh banyak orang (termasuk banyak pembuat keputusan) sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya.


Berita, dalam konteks komunikasi massa yang berkembang sampai sekarang, selalu muncul dalam benak dan pikiran manusia. Berita yang dikonstruksi dalam benak manusia bukan merupakan peristiwa riil manusia. Berita sangat jauh dari realitas nyata. Berita merupakan usaha rekonstruksi kerangka peristiwa yang terjadi. Berita dalam konteks komunikasi massa, lebih merupakan inti yang disesuaikan dengan kerangka acuan yang dipertimbangkan agar peristiwa itu memiliki makna bagi para pembacanya.


Berita dalam kapasitasnya sebagai pembentuk dan dinamisator pengolahan interpretasi atas peristiwa manusia, menjadi hal yang sangat penting dalam proses pembentukan konstruk sosial. Berita, pada titik tertentu, sangat mempengaruhi manusia merumuskan pandangannya tentang dunia (Weltanschaung). Pandangan terhadap dunia adalah bingkai yang dibuat oleh manusia untuk menggambarkan tentang apa dan bagaimana dunia dipahami. Berbagai pengalaman hidup manusia dimaknai dalam bingkai tersebut. Tanpa adanya bingkai yang jelas, kejadian, peristiwa dan pengalaman manusia akan terlihat “kacau” dan chaos. Bingkai pengalaman dapat dilihat sebagai “skenario awal” yang memposisikan setiap pengalaman dan peristiwa dalam plot cerita yang kurang lebih runtut, rasional dan sistematis. (www.ekawenats.blogspot.com)

Sebagai sebuah proses sosial pemberitaan merupakan salah satu alat konstruksi realitas. Menurut Irwan Abdullah proses konstruksi itu bertumpu pada istilah dan nilai yang dibawa oleh sebuah bahasa yang digunakan untuk menjadi kekuatan dalam pencitraan.(Humaniora, 2003:03)


Dalam penyusunan beritanya mengenai terorisme sebagian besar media massa dan kantor pemberitaan Amerika pada khususnya dan barat pada umumnya, dalam hal ini negara-negara Eropa barat, Amerika belahan Utara dan Australia. Dalam pemberitaanya media massa internasional seringkali menggunakan istilah-istilah baru dalam bahasa seperti lahirnya kosakata baru Islam Fundamentalis, Islam Radikal, Ulama radikal, untuk memperkuat pesan. Hal itu dilakukan demi terciptanya modal pencitraan yang kuat dalam publikasi yang ujung-ujungnya adalah untuk komoditas media.


Semenjak peristiwa 11 september di Amerika, berita-berita tentang terorisme menjadi salah satu komoditas utama di media massa seluruh dunia. Ditambah dengan peristiwa-peristiwa teror yang terjadi di seluruh dunia. Pernyataan perang melawan teroris dan segala aktivitasnya yang dideklarasikan oleh presiden Amerika Serikat dan hampir seluruh pemimpin dunia menjadi bahan berita yang mampu mengisi headline berita media Internasional seperti CNN, BBC, ABC dan Time dan mereka benar-benar melakukannya.


Perang-perang lokal yang terjadi di belahan bumi menjadi bahan atau materi berita yang semakin menarik untuk dikaji lebih mendalam. Berita-berita tentang perampok bersenjata yang tidak jarang memakan korban telah menjadi bagian integral bagi media massa untuk menaikkan oplah media, baik media cetak maupun media elektronik. Banyak korban kekerasan dan peristiwa yang bersifat destruktif menjadi ladang panen yang siap dipanen bermanfaat untuk memperbanyak kuantitas profit ekonomi para pemilik modal media massa kontemporer. Bukan saja berita yang bersifat langsung dan keras yang laku di pasaran tapi juga berita-berita kelaparan, kemiskinan, ketidakberdayaan masyarakat dalam “teror-teror” simbolik yang dikembangkan di media massa. (www.ekawenats.blogspot.com)


Menurut salah satu pemikir kritis Amerika Serikat Noam Chomsky, dari beberapa sumber internet pemerintah Amerika Serikat memberikan setiap tahunnya 1 milyar dolar untuk propaganda dan kegiatan kehumasan. Sebagai contoh pada tahun 1996, Kongres Amerika Serikat memberikan dana sebesar 10 juta dollar kepada jaringan media massa dunia dan beberapa milyar dollar lagi untuk jaringan media besar lainnya. Untuk kompensasinya, pemerintah Amerika Serikat meminta adanya dukungan media terhadap kebijakan pemerintah.
Pada tahun 2003, Komisi Hukum Federal Amerika Serikat mengesahkan Undang-Undang yang memungkinkan media-media raksasa melakukan monopoli. Pemerintah Amerika Serikat justru mendorong agar perusahaan-perusahaan media saling melakukan merger sehingga bisa menjadi perusahaan media raksasa. Dengan harapan pemerintah Amerika Serikat, semakin sedikit perusahaan media, langkah-langkah yang ditempuh agar dapat mengontrol jaringan media massa dunia dan menjadikannya sebagai dominator informasi dunia akan lebih mudah.

Dengan kemampuan teknologi yang mereka punyai, mereka mampu menjadikan media-media yang ada sebagai media politik arus utama di dunia. Ada banyak contoh yang bisa kita simak. Misalnya ketika kemenangan George W. Bush yang kontroversial pada pemilu tahun 2000. Stasiun televisi Fox News, yang didirikan atas bantuan tokoh-tokoh partai Republik, partai dari mana George W. Bush berasal, berperan penting dalam kemenangan itu. Pada tahun 2004, direktur stasiun televisi ini secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada Bush. Sementara itu, terungkap juga bahwa ada perjanjian resmi antara CNN dan pemerintah Amerika Serikat, mengingat siaran CNN bisa ditangkap di seluruh penjuru dunia.(www.hidyatullah.com)


Dalam proses penyusunan konstruksi realitas, menurut Peter Berger & Luckamnn (Bungin,2001:12) telah terjadi dialektika antara individu yang menciptakan masyarakat dan masyarakat yang menciptakan individu. Proses dialektika ini terjadi melalui Eksternalisasi, Obyektifikasi, dan Internalisasi. Dialektika tersebut akan terus saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Dalam hal ini antara media massa, realitas sosial dan realitas sosial bentukan media. Sehingga melalui berbagai produk media seperti informasi dan acara munculah realitas sosial baru sebagai hasil dialektika mengikuti realitas yang disampaikan oleh media.

Redaksi media massa turut menyumbangkan produk sosial hasil rekonstruksi realitas dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Citra teroris buatan media sebagai produk sosial terus berinteraksi dengan masyarakat melalui pemberitaan, siaran-siaran televisi, siaran radio dan media cetak. Dalam tahapan ini eksternalisasi terjadi, hingga masyarakat menerima. Seiring interaksi yang terjadi citra teroris ini menjadi penting karena individu melakukan penyesuaian diri. Seakan produk yang diproduksi media tersebut menjadi bagian dari dunia sosiokultural yang diproduksi manusia.


Dalam proses obyektivikasi, produk sosial ini berlangsung bertahap dan dalam jangka waktu yang lama. Manusia mulai melakukan signifikasi (pemberian nilai) terhadap informasi pemberitaan yang dibuat oleh redaksi media. Redaksi media dalam setiap pemberitaanya melakukan proses pencitraan menandai sebuah produk dengan citra tertentu seperti citra teroris dengan orang arab, orang arab dan fundamentalisme beragama, Islam dan kekerasan. Proses transaksi nilai ini terjadi dalam dunia intersubyektif masyarakat.


Orang-orang bersorban dengan wajah marah menenteng senjata Ak-47 sambil memaki-maki Amerika hampir setiap hari terlihat di madia-media massa internasional. Simbol-simbol agama dalam bendera-bendera yang dibawa pria arab sekaligus membawa bom sudah menjadi santapan sehari-hari audiens. Dalam tayangan pemberitaan tersebut redaksi pemberitaan media memberikan kesubyektivitasnya dalam melihat realitas sosial yang ada.


Proses pemberitaan yang mengarah ke arah pembodohan dan ketebelakangan umum ini tidak lain dan tidak bukan adalah hasil reproduksi realitas yang ada dalam dunia sosiokultural masyarakat. Pada tahap ini, terjadi kembali pemahaman dan penafsiran langsung terhadap pemberitaan media massa, sebagai pengungkapan makna oleh individu. Proses reproduksi sosial dalam pemberitaan, seperti yang diuraikan adalah gambaran bagaimana internalisasi nilai terjadi dalam pemberitaan oleh media.


Seperti ditegaskan Berger dan Luckmann (1966), kenyataan sosial merupakan suatu konstruksi sosial buatan masyarakat sendiri, dalam perjalanan sejarahnya dari masa silam, masa kini, dan masa depan. Realitas diproduksi, direkayasa secara intensif sehingga menghasilkan pandangan seolah-olah merupakan hal yang biasa saja.


Berkaitan dengan terorisme —sering kali tanpa kita sadari— ada sebuah konstruksi sosial yang dibangun oleh pihak-pihak yang berkepentingan yang bertujuan mendistorsi realitas. Hasil distorsi realitas ini kemudian disosialisasikan kepada masyarakat sehingga menjadi sebuah common sense, dapat diterima dengan akal sehat. Konstruksi sosial tersebut berupa konotasi bahwa istilah teroris itu —diarahkan sedemikian rupa sehingga— hanya menunjuk pada “sekelompok orang” yang mengintimidasi pemerintah dengan cara kekerasan. (www.pikiran-rakyat.com)


Gigih Pribadi
Tugas Matkul Soskomku/2005



MANIFESTASI KONSUMERISME DALAM IDENTITAS INDIVIDU*



Jika kita berbicara mengenai permasalahan budaya konsumen/konsep konsumerisme secara langsung kita juga berbicara mengenai sebuah prilaku manusia dan sebuah gaya hidup zaman posmodern. Di zaman yang terus mengalami perubahan sosial guna mencari bentuk ini, ternyata tidak hanya menjadi zamannya Eropa ataupun Amerika saja yang menjadi asalnya-muasalnya atau yang biasa kita sebut sebagai Barat. Akan tetapi dengan berkembangnya teknologi komunikasi fenomena ini menjadi suatu hal yang Universal di Indonesia.


Salah satu perubahan sosial yang terjadi adalah perubahan mendasar pada gaya hidup masyarakat berdasarkan relasi konsumsi. Di dalam perubahan ini, peristiwa konsumsi tidak lagi dapat ditafsirkan sebagai suatu peristiwa dimana masyarakat mengkonsumsi suatu barang ataupun objek berdasarkan nilai gunanya/utilities dalam pemenuhan kebutuhan manusia saja, akan tetapi berkaitan juga dengan unsur-unsur simbolik untuk menandai kelas, status, atau simbol sosial tertentu. Menurut Yasraf, Konsumsi mengekspresikan posisi sosial dan identitas kultural sosial dalam masyarakat. Yang dikonsumsi tidak lagi sekadar objek, tetapi juga makna-makna sosial yang tersembunyi di baliknya (Yasraf, 2004:179).


Budaya sendiri merupakan sebuah kata pungut dari bahasa Sansekerta; buddhaya, yang berdasarkan kepada kata bud yang kita kenal pula sebagai kata budi dalam bahasa Indonesia. Menurut Andreas Eppink, culture atau kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Kata budaya bisa berarti: pikiran, akal budi, konsep adat istiadat segala sesuatu ungkapan manusia sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sulit diubah seni, kultur, pakaian.


Lahirnya budaya Konsumen/Konsumerisme tidak dapat dipisahkan dari semakin berkembangnya kapitalisme awal menjadi advance capitalism/kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Terutama pada masyarakat Indonesia hal ini dapat kita lihat dari tinjauan historis semenjak berkuasanya ordebaru dimana investasi besar-besaran masuk dan kapitalisme awal mendapatkan tempat sampai perkembangannya kini. Apapun dapat menjadi komoditas merupakan slogan dari advance capitalism ditambah dengan dukungan media massa yang mampu menginternalisasikan nilai dalam masyarakat, semakin menguatkan budaya-budaya baru yang ada termasuk budaya konsumen. Sehingga dalam masyarakat konsumer, setidak-tidaknya terdapat tiga bentuk kekuasaan yang beroperasi di belakang produksi dan konsumsi objek-objek estetik, yaitu kekuasaan kapital, kekuasaan produser, serta kekuasaan media massa. (ibid : 180).


Konsumsi sebagai suatu proses menghabiskan atau mentransformasikan nilai-nilai yang tersimpan di dalam sebuah objek, berbagai macam pengaruhnya telah dikaji dan menjadi diskursus dalam berbagai bidang disiplin ilmu dan analisis. Menurut sosiolog scheler konsumsi dapat dipandang sebagai kenyataan sosial yang dibangun melalui proses dialektika; eksternalisasi, obyektifikasi dan internalisasi. Dalam proses ini terdapat penciptaan nilai-nilai melalui objek-objek artefak untuk kemudian mengakui dan menerimanya kembali. Dari sudut pandang linguistik, konsumsi dapat dipandang sebagai proses menggunakan atau mendekonstruksi tanda-tanda yang terkandung di dalam objek-objek olah para konsumer dalam rangka menandai relasi-relasi sosial. Dalam hal ini, objek dapat menentukan status, prestise, dan simbol-simbol sosial tertentu bagi para pemakaiannya.


Lebih menarik dalam berbagai analisisnya, para ilmuwan sosial memberikan korelasi yang kuat adanya pengaruh antara budaya konsumen dan makna-makna sosial atau identitas-identitas individu. Seperti dialektika scheler, rupanya diambil dari istilah yang digunakan oleh Daniel Miller di dalam material culture and mass consumption, dalam menjelaskan konsep Hegel tentang hubungan dialektik antara subjek dan objek.


Menurut Miller, dalam proses objektifikasi ini melibatkan hubungan antara subjek dalam hal ini manusia, kebudayaan sebagai bentuk eksternal, dan artefak sebagai objek ciptaan manusia. Dalam konsep ini subjek mengeksternalisasikan dirinya melalui penciptaaan objek-objek ataupun artefak yang dimaksudkan mampu memberikan diferensiasi dengan objek-objek yang ada sebelumnya. Kemudian menginternalisasikanya kembali (mengembalikan pada diri), nilai-nilai ciptaan tersebut melalui proses sublasi atau pemberian pengakuan. Akan tetapi subjek selalu merasa tidak puas dengan hasil ciptaanya sendiri, karena ia membandingkan hasil ciptaannya dengan pengetahuan dan nilai yang absolut yang justru beranjak semakin jauh tatkala diacu sehingga yang muncul dalam diri subjek adalah rasa ketidakpuasan tanpa akhir.


Akan tetapi menurut Marx, karena Marx sendiri menghubungkan objektifikasi dengan relasi produksi. Bagi Marx subjek tidaklah mampu mengeksternalisasikan dirinya melalui penciptaan artefak secara merdeka. Hal tersebut dikarenakan dirinya sendiri merupakan komoditi, yang diperjualbelikan tenaganya baik fisik maupun intelektual sama seperti objek yang diproduksinya. Di dalam relasi produksi semacam ini Marx melihat satu proses yang disebut penceraian (estrangement), yakni penceraian subjek (pekerja) dari hasil kerjanya. Akan tetapi seiring berkembangnya teknologi produksi yang menifestasinya berupa automatisasi dan komputerisasi, peran pekerja dapat diminamalisasi sedemikian rupa bahkan hampir dihilangkan sehingga penceraian yang dimaksudkan oleh Marx kian kehilangan makna. Kalaupun ada penceraian antara subjek dan objeknya, subjek tidak akan ambil pusing karena kini setelah orang lelah bekerja, orang dapat menghanyutkan diri dalam dalam ekstasi konsumsi seperti hiburan dan tontonan dalam ekstasi konsumerisme.


Di dalam masyarakat konsumer relasi antara subjek dan objek berkembang semakin kompleks. Kini subjek tidak harus melakukan penciptaan untuk mengeksternalisasikan baru kemudian menginternalisasi dirinya, akan tetapi hanya dengan mengkonsumsi kini subjek dapat sekaligus menginternalisasi dan mengeksternalisasi dirinya. Secara kasar boleh dikatakan kini mesyarakat konsumer hanya dapat dipandang dalam relasi konsumsi semata (consumer par-excellence). Karenanya pernyataan filosof Cartesian yang mengatakan -Aku berpikir, karenanya Aku ada- kini semakin kehilangan makna berganti –Aku mengkonsumsi, karenanya Aku ada- karena dalam realitas sosial, subjek menginternalisasikan nilai-nilai sosial,budaya dan objek-objek melalui tindakan konsumsi.


Dalam analisa bahasa dan pertandaan/semiotica konsumsi disini menjadi sebuah fenomena bahasa dan pertandaan, dan masuk dalam bahasan semiotika. Ketika kita mengkonsumsi objek-objek bukan sekedar menghabiskan nilai guna dan nilai utilitasnya, akan tetapi juga untuk mengkomunikasikan /merepresentasikan /menandai /mengirim pesan. Dalam kenyataanya, masyarakat selalu berupaya mengenalkan diri melalui barang yang mereka miliki.
Mereka menemukan jiwanya pada mobil yang mereka miliki, perabot rumah mewah, dan barang- barang konsumtif lainnya seperti kita menggunakan perhiasan mahal untuk menandai kekayaan dan status sosial kita. Mekanisme pernyataan posisi seseorang di tengah masyarakat yang berubah dan berada dalam pengendalian sosial, kini terletak pada kebutuhan baru secara konsumtif (Burhan, 2001:24). Menurut Baudrillard, di dalam pola konsumsi yang dilandasi oleh nilai citra atau tanda daripada nilai guna atau utilitas, logika yang mendasarinya bukan lagi logika needs (need) melainkan hasrat (desire).
Bila kebutuhan dapat dipenuhi setidak-tidaknya secara parsial melalui objek-objek, hasrat sebaliknya tidak akan pernah terpenuhi, karena satu-satunya objek yang dapat memenuhi hasrat yang diproduksi oleh mesin hasrat adalah objek hasrat (seksual) yang berada dalam alam bawah sadar dan ini telah menghilang untuk selamanya, dan hanya dapat mencari subtitusinya-subtitusinya melalui dunia objek atau simbol-simbol yang dikonsumsi. Itulah istilah logika yang dipakai untuk menjelaskan reproduksi perasaan kekurangan (lack) dalam setiap manusia.


Dengan berkembangnya logika hasrat dalam manusia, akhirnya memacu kapitalisme mutakhir untuk terus memproduksi simbol-simbol dan tanda-tanda dengan cepat dan massal. Akibatnya dari objek-objek konsumsi yang mengalir tak putus-putusnya dalam kecepatan tinggi di dalam arena konsumerisme tidak pernah dan tidak akan pernah mampu untuk memenuhi memenuhi kebutuhan konsumers. Seperti halnya hasrat tidak akan terpenuhi oleh objek hasrat selamanya. Hal tersebut turut merubah identitas-identitas individu akan simbol-simbol dan citra dirinya. Bahkan dalam masyarakat konsumer muncul istilah yang mencerminkan realitas sosial yang ada yaitu ”Aku berganti, Karenanya aku ada”.


Hal itulah yang disebut sebagai skizorfenia yaitu proses pergantian identitas-identitsas dalam waktu yang singkat dan instan di tengah rimba tanda dan citra. Sehingga kini bukan lagi konsumen yang menguasai objek akan tetapi konsumen ikut dalam irama putaran objek yang tiada habisnya.


Dalam budaya konsumerisme, konsumsi tidak lagi diartikan scara harfiah hanya sebagai satu lalu lintas kebudayaan benda seperti halnya jual beli barang, dalam pemahaman konsumsi yang konvesional, akan tetapi menjadi panggung sosial, yang didalamnya terjadi perang posisi di antara anggota-anggota masyarakat yang terlibat. Budaya konsumerisme yang berkembang merupakan satu arena dimana produk-produk konsumer merupakan satu medium untuk pembentukan personalitas, gaya, citra, gaya hidup, dan cara diferensiasi status sosial yang berbeda-beda. Barang-barang konsumer pada akhirnya menjadi sebuah cermin tempat para konsumer pada akhirnya menjadi sebuah cermin tempat para konsumer menemukan makna kehidupan.


Konsumsi membentuk semacam totalitas objek-objek dan pesan-pesan yang dibangun di dalam sebuah wacana yang saling berkaitan. Konsumsi, sejauh ia mengandung suatu makna tertentu, merupakan satu tindakan pengguanaan simbol secara sistematis untuk menandai posisi sosial tertentu (Yasraf. 2004:189).


*Gigih Pribadi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Universitas Diponegoro



DAFTAR PUSTAKA
Piliang, Yasraf Amir .1999. Hiperrealitas Kebudayaan.Yogyakarta: Lkis.
_______________, .2004.Dunia yang Dilipat; Tamasya melampui batas-batas
Kebudayaan. Yogyakarta : Jalasutra.
Bungin, Burhan. 2001. Imaji Media Massa. Yogyakarta : Jendela.
Turner, Bryan. 2000. Teori-Teori Sosiologi Modernitas dan Posmodernnitas.Yogyakarta: Panta Rhei Books.
Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
William L Rivers,et.al. 2004. Media Massa dan Masyarakat Modern. Jakarta: Prenada Media.